1
Sep

Blog yang ditumbuhi lalang2..

Posted Oleh client Kategori - mylife

Assalamualaikum,

Setelah sekian lama menyepi..tergerak hati nak update blog yang dah lama sangat tak update..
Bukan takmau update cuma kesempatan tu je tak ada..
Setiap kali tangan memegang tetikus (mouse) .. Bnyk benda lagi nak dibuka dan diupdate dan ubahsuai..
Antara nya ialah :

http://groups.yahoo.com/group/lepakk
http://www.penaga.net
http://man.penaga.net @ http://sillaturahim.wordpress.com
http://sedutmp3.wordpress.com
http://lepakk.freephpnuke.org
http://blog.cyberjaya.org/myrowk/myjoomla
www.friendster.com hehehe
dan ada lagi yg aku ingat nanti aku update balik hehe..
Korang nampak tak betapa bz nya aku kalu buka internet?
Mana nak study lagi (aku sambung belajar secara sambilan pada sabtu dan ahad)
Mana keja kat opis lagi..
Tu lagi ni lagi ..
PPerghhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh

17
Aug

Busy

Posted Oleh client Kategori - mylife

Im toooo bz toooo update….

2
Mar

Kerja baru

Posted Oleh client Kategori - mylife

Assalamualaikum buat mereka yg secara tak sengaja membaca tulisan saya ni…Jika terasa bebelan saya ni tidak menyenang harap anda tidak teruskan membaca..
Hari ni saya dok umah je..rasa lembik seluruh badan huhhu…
Kan bagus kalu dapat keluar berjalan2 bersama sesiapa jugak yg menyenangkan..menghiburkan..
Bila sebut menghiburkan teringat pada my best pren.. Maaf saya tak dapat pergi keluar dgn kamu kerana sedikit masalah..

Hari jumaat lepas saya bukak www.spa.gov.my dan check keputusan temuduga…
Jantung saya berdegup kencang apabila keputusan sudah boleh diperolehi..
Ketika memasukkan no ic kedalam kotak yg disediakan…jantung bagaikan hendak berhenti..
Kenapa?
Sebab saya ingin lari dari dunia saya skrg..
Kedunia baru disana..Nak mengubah keseluruhan cara idup saya..
Supaya lebih matang dalam menghadapi masa depan..
Dan ini adalah salah satu cara saya dapat lari jauh…
Jadi saya harus merebut peluang ini !!
Dan keputusan ini akan menentukan gembirakah saya hari tu atau muka monyok sepanjang hari..

Apabila saya tekan butang “submit” saya perlahan2 turunkan scroll ke bawah..
Dup dap dup dap!!!

Tahniah anda berjaya dengan sesi temuduga,
Sila tunggu surat tawaran dari jabatan perkhidmatan awam.

Ketika tu saya rasa cam nak jerit beb!!hahahaha syiooookk betol..
Terus je saya call “diana” kawan kelas saya..
“Hello diana..keputusan dah kuaq weh!”
“hah yeke? hang dapat x?”
“a ah aku dpt..hahaha sukanya..meh ic hang aku nak check”
“takpa2 aku check sendiri la”
“ok ok..satg dah dpt keputusan call aku”
“ok..”

Tut tepon aku bunyi 5 minit lepas tu..
“waaa aku x dpt weyh!! waaa”
“ye ke? aduh..kesian kat hang”
“aku meluat arhh!!!meluat !!”
“rilek2 diana hehe”

bla bla bla..
Huhuhuhu
Memang bernasib baik saya kan?

Hehehehehe..
Kepada my bestpren..
What should i do?
i cannot handle my self anymore…
T_T

21
Dec

Wasiat Ibu Kepada Anak Perempuan

Posted Oleh client Kategori - Lepakk

WASIAT SEORANG IBU KEPADA ANAK PEREMPUANNYA
Oleh
Abu Abdurrahman bin Abdurrahman Ash-Shabihi

Anjuran Berwasiat Kepada Calon Isteri
Anas mengatakan bahwasanya para sahabat Nabi Shallallahu `alaihi wa
sallam jika mempersembahkan (menikahkan) anak perempuan kepada calon
suaminya, mereka memerintahkan kepadanya untuk berkhidmat kepada suami
dan senantiasa menjaga hak suami.

Pesan Bapak Kepada Anak Perempuannya Saat Pernikahan
Abdullah bin Ja’far bin Abu Thalib mewasiatkan anak perempuannya,
seraya berkata, “Jauhilah olehmu perasaan cemburu, karena rasa
cemburu adalah kunci jatuhnya thalak. Juga jauhilah olehmu banyak
mengeluh, karena keluh kesah menimbulkan kemarahan, dan hendaklah kamu
memakai celak mata karena itu adalah perhiasan yang paling indah dan
wewangian yang paling harum”.

Pesan Ibu Kepada Anak Perempuannya
Diriwayatkan bahwa Asma binti Kharijah Al-Farzari berpesan kepada anak
perempuannya disaat pernikahannya, “Sesungguhnya engkau telah keluar
dari sarang yang engkau tempati menuju hamparan yang tidak engkau
ketahui, juga menuju teman yang engkau belum merasa rukun dengannya.
Oleh karena itu jadilah engkau sebagai bumi baginya, maka dia akan
menjadi langit untukmu. Jadilah engkau hamparan baginya, niscaya ia
akan
menjadi tiang untukmu. Jadilah engkau hamba sahaya baginya, maka
niscaya
ia akan menjadi hamba untukmu. Janganlah engkau meremehkannya, karena
niscaya dia akan membencimu dan janganlah menjauh darinya karena dia
akan melupakanmu. Jika dia mendekat kepadamu maka dekatkanlah dirimu,
dan jika dia menjauhimu maka menjauhlah darinya. Jagalah hidungnya,
pendengarannya, dan matanya. Janganlah ia mencium sesuatu darimu
kecuali
wewangian dan janganlah ia melihatmu kecuali engkau dalam keadaan
cantik. [1]

Pesan Amamah binti Harits Kepada Anak Perempuannya Saat Pernikahan.
Amamah bin Harits berpesan kepda anak perempuannya tatkala membawanya
kepada calon suaminya, “Wahai anak perempuanku! Bahwasanya jika
wasiat ditinggalkan karena suatu keistimewaan atau keturunan maka aku
menjauh darimu. Akan tetapi wasiat merupakan pengingat bagi orang yang
mulia dan bekal bagi orang yang berakal. Wahai anak perempuanku! Jika
seorang perempuan merasa cukup terhadap suami lantaran kekayaan kedua
orang tuanya dan hajat kedua orang tua kepadanya, maka aku adalah
orang
yang paling merasa cukup dari semua itu. Akan tetapi perempuan
diciptakan untuk laki-laki dan laki-lakai diciptakan untuk perempuan.
Oleh karena itu, wahai anak perempuanku! Jagalah sepuluh perkara ini.

Pertama dan kedua : Perlakuan dengan sifat qana’ah dan
mu’asyarah melalui perhatian yang baik dan ta’at, karena pada
qan’aah terdapat kebahagiaan qalbu, dan pada ketaatan terdapat
keridhaan Tuhan.

Ketiga dan keempat : Buatlah janji dihadapannya dan beritrospeksilah
dihadapannya. Jangan sampai ia memandang jelek dirimu, dan jangan
sampai
ia mencium darimu kecuali wewangian.

Kelima dan keenam : Perhatikanlah waktu makan dan tenangkanlah ia
tatkala tidur, karena panas kelaparan sangat menjengkelkan dan
gangguan
tidur menjengkelkan.

Ketujuh dan kedelapan : Jagalah harta dan keluarganya. Dikarenakan
kekuasaan dalam harta artinya pengaturan keuangan yang bagus, dan
kekuasaan dalam keluarga artinya perlakuan yang baik.

Kesembilan dan kesepuluh : Jangan engkau sebarluaskan rahasianya,
serta
jangan engkau langgar peraturannya. Jika engkau menyebarluaskan
rahasianya berarti engkau tidak menjaga kehormatannya. Jika engkau
melanggar perintahnya berarti engkau merobek dadanya. [2]

Bahwasanya keagungan baginya yang paling besar adalah kemuliaan yang
engkau persembahkan untuknya, dan kedamaian yang paling besar baginya
adalah perlakuanmu yang paling baik. Ketahuilah, bahwasanya engkau
tidak
merasakan hal tersebut, sehingga engkau mempengaruhi keinginannya
terhadap keinginanmu dan keridhaannya terhadap keridhaanmu (baik
terhadap hal yang engkau sukai atau yang engkau benci). Jauhilah
menampakkan kebahagiaan dihadapannya jika ia sedang risau, atau
menampakkan kesedihan tatkala ia sedang gembira.

Tatkala Ibnu Al-Ahwash membawa anak perempuannya kepada amirul
mukminin
Ustman bin Affan Radhiyallahu `anhu, dan orang tuanya telah
memberinya nasihat, Ustman berkata, “Pondasi mana saja, bahwasanya
engkau mengutamakan perempuan dari suku Quraisy, karena mereka adalah
perempuan yang paling pandai memakai wewangian daripada engkau. Oleh
karena itu perliharalah dua perkataan : Nikahlah dan pakailah
wewangian
dengan menggunakan air hingga wangimu seperti bau yang ditimpa air
hujan.

Ummu Mu’ashirah menasihati anak perempuannya dengan nasihat sebagai
berikut (sungguh aku membuatnya tersenyum bercampur sedih): Wahai
anakku.. engkau menerima untuk menempuh hidup baru… kehidupan yang
mana ibu dan bapakmu tidak mempunyai tempat di dalamnya, atau salah
seorang dari saudaramu. Dalam kehidupan tersebut engkau menjadi teman
bagi suamimu, yang tidak menginginkan seorangpun ikut campur dalam
urusanmu, bahkan juga daging darahmu. Jadilah istri untuknya wahai
anakku, dan jadilah ibu untuknya. Kemudian jadikanlah ia merasakan
bahwa
engkau adalah segala-galanya dalam kehidupannya, dan segala-galanya di
dunia.

Ingatlah selalu bahwasanaya laki-laki anak-anak atau dewasa memiliki
kata-kata manis yang lebih sedikit, yang dapat membahagiankannya.
Janganlah engkau membuatnya berperasaan bahwa dia menikahimu
menyebabkanmu merasa jauh dari keluarga dan sanak kerabatmu.
Sesungguhnya perasaan ini sama dengan yang ia rasakan, karena dia juga
meninggalkan rumah orang tuanya, dan keluarga karena dirimu. Tetapi
perbedaan antara dia dan kamu adalah perbedaan antara laki-laki dan
perempuan, dan perempuan selalu rindu kepada keluarga dan tempat ia
dilahirkan, berkembang, besar dan menimba ilmu pengetahuan. Akan
tetapi
sebagai seorang isteri ia harus kembali kepada kehidupan baru. Dia
harus
membangun hidupnya bersama laki-laki yang menjadi suami dan
perlindungannya, serta bapak dari anak-anaknya. Inilah duaniamu yang
baru.

Wahai anakku, inilah kenyataan yang engkau hadapi dan inilah masa
depanmu. Inilah keluargamu, dimana engkau dan suamimu bekerja sama
dalam
mengarungi bahtera rumah tannga. Adapun bapakmu, itu dulu.
Sesungguhnya
aku tidak memintamu untuk melupakan bapakmu, ibumu dan sanak
saudaramu,
karena mereka tidak akan melupakanmu selamanya wahai buah hatiku.
Bagaimana mungkin seorang ibu melupakan buah hatinya. Akan tetapi aku
memintamu untuk mencintai suamimu dan hidup bersamanya, dan engkau
bahagia dengan kehidupan berumu bersamanya.

Seorang perempuan berwasiat kepada anak perempuannya, seraya berkata,
“Wahai anakku, jangan kamu lupa dengan kebersihan badanmu, karena
kebersihan badanmu menambah kecintaan suamimu padamu. Kebersihan
rumahmu
dapat melapangkan dadamu, memperbaiki hubunganmu, menyinari wajahmu
sehingga menjadikanmu selalu cantik, dicintai, serta dimuliakan di
sisi
suamimu. Selain itu disenangi keluargamu, kerabatmu, para tamu, dan
setiap orang yang melihat kebersihan badan dan rumah akan merasakan
ketentraman dan kesenangan jiwa”.

[Disalin dari buku Risalah Ilal Arusain wa Fatawa Az-Zawaz wa
Muasyaratu
An-Nisaa, Edisi Indonesia Petunjuk Praktis dan Fatwa Pernikahan,
Penulis
Abu Abdurrahman Ash-Shahibi,Penerbit Najla Press]
_________

Sumber

20
Dec

Sila gunakan bahasa “saya”

Posted Oleh client Kategori - Lepakk

Waktu hujung-hujung minggu, biasanya kita yang sibuk dengan kerja-kerja di pejabat tu, amatlah teringin untuk berehat dengan erti kata rehat yang sebenar-benarnya. Seperti relax membaca akhbar, majalah-majalah dan bersantai di kerusi empuk tu bermandikan cahaya sinaran TV yang akan dibuka dari 7.00 pagi sampailah ke 11.00 malamnya. Kalau boleh tak mahu langsung membuat kerja-kerja yang memenatkan sama ada otak maupun otot-otot ni. Jadi dengan niat yang telah kita lafazkan di dalam hati tu sejak awal-awal pagi lagi, maka segala otot-otot kita pun turut menerima arahan otak tu dan terus mengendurkan dirinya dan ingin saja berehat bersama-sama dengan anggota badan kita yang lain. Maka tenggelamlah kita di dalam empukan sofa “malas” kita tu hingga ke waktu yang ditentukan oleh kita sendiri.

Anak-anak yang kecil-kecil yang masih mahu bermanja lagi dengan kita akan mengambil kesempatan ini untuk menguasai kita dengan memanjat di belakang dan sampai naik ke atas kepala kita laksana “King Kong” menguasai Tower tertinggi di New York tu. Kita relakan anak-anak itu berkingkong ke atas kita kerana inilah sahaja masa untuk kita bermesra dengan mereka. Malah, memang pada hujung minggu inilah anak-anak kita itu menantikan-nantikan waktu ayah mereka duduk berehat di atas sofa kegemaran kita tu. Mereka merasakan inilah peluang mereka untuk mengetuk, mencekik, memanjat dan malah mengencingkan air kecil mereka ke atas riba kita. Maka seronoklah mereka dan kita. Kita biarkan mereka berbuat apa saja ke atas kita asalkan mereka tidak mengarah atau menyuruh kita buat kerja-kerja yang memerah otot-otot kita.

Lain pula dengan isteri kita. Peluang hujung minggu ni lah nak suruh abangnya tinggikan sikit gambar permandangan yang baru dibeli, sebab rendah sangat nanti orang tak nampak. Sapu sawang pada siling yang tinggi tu sebab nampak huduh macam rumah tak bertuan. Gosok sikit lantai mosaik di bilik air tu sebab nampak hitam berlumut, nanti malu kalau orang datang nak guna bilik air tu. Nak ubah katil “king size” tu ke sebelah kanan bilik, sebab dah jemu dengan kedudukan yang sedia ada ni dan macam-macam lagi agendanya yang sentiasa kreatif dan inovatif itu.

Maka apabila dia lihat sahaja kita sedang terbaring menghadap TV atau sedang membaca akhbar atau majalah tu selepas menjamah sarapan pagi, dia akan berkata,
“Lantai di bilik air tu kotor lah bang, mengapa abang tak cuci lagi, nanti orang datang rumah kita, malulah kita bang!. Atau “Abang, gambar tu abang pasang rendahlah bang, nanti tak nampaklah, tak cantik, rugi aje beli gambar lawa-lawa tapi tak nampak. Tinggikannya sikit bang!” Atau mana-mana isteri yang berani sikit tu atau yang rasa ada kuasa sikit tu akan berkata, “Abang ni sama aje macam budak-budak tu, tiap hari minggu mengadap TV tak habis-habis, tu hah, sawang dah naik hitam kat siling atas kepala awak tu, tolonglah Yah, Yah tak sampai nak cuci tu, tinggi sangat”.

Maka kita pun rasa tergugat dengan serangan-serangan pagi dari isteri kita tu. Sebab memang kita tidak bersedia untuk membuat apa-apa malah apa lagi untuk menangkis serangan tersebut. Jika difikirkan alasan isteri itupun ada benarnya, tetapi hati kita tetap tidak setuju dengannya. Mulalah kita mencari alasan-alasan yang munasabah untuk menangkis serangan isteri tadi atau mencari “bom tangan” yang dapat mengalahkannya secepat mungkin agar keselamatan “awam kita” terjamin untuk pagi itu. Jawapan kita kadang-kadang begini,

” Alahai, nanti abang buatlah” “Abang letihlah, panggil tukang gambarlah untuk repair, nanti abang bayar”. “Takkan tak boleh sampai, ambil buluh, sambunglah dengan batang sapu sawang tu, kalau hendak seribu daya tak hendak seribu dalih”.

Harapan kita agar isteri akan puas dengan jawapan kita. Tetapi sebaliknya, serangannya bertambah bertalu-talu menggunakan meriam penangkis kapal terbang pula. Hujahnya bertambah logik berserta dengan sejarah-sejarah silam yang kita pernah berjanji tetapi tidak kita laksanakan. Akhirnya niat kita untuk berehat telah bertukar menjadi gelanggang berentap memenangkan objektif masing-masing di pagi hujung minggu.

Mengapa boleh terjadi demikian? Mari kita selami puncanya.

Kita dan isteri kita banyak menggunakan bahasa “awak” dari bahasa “saya”. Ini yang menyebabkan kita seolah-olah serang menyerang semasa kita berkomunikasi. Jika kita dan isteri kita menggunakan bahasa “saya”, pasti komunikasinya itu akan boleh diterima dengan baik oleh kita dan dia.

Contoh:

Bahasa “awak” yang dia gunakan tadi: “Lantai di bilik air tu kotor lah bang, mengapa abang tak cuci lagi, nanti orang datang rumah kita, malulah kita bang!.

Bahasa “saya” yang sepatut digunakannya:

“Yah nampak lantai bilik air tu tak berapa cantiklah, Yah sukalah kalau boleh dicuci sikit. Nanti kalau orang datang, hati Yah seronok kalau orang tu pakai bilik yang bersih.”

Isteri ini langsung tidak menggunakan “abang” tetapi lebih membahasakan dirinya dalam saranannya ini. Bukankah ianya lebih lembut dan tidak menyerang suaminya. Tentu sekali suaminya boleh menerika kenyataannya ini.

Satu lagi contoh bahasa “awak”:

“Abang, gambar tu abang pasang rendahlah bang, nanti tak nampaklah, tak cantik, rugi aje beli gambar lawa-lawa tapi tak nampak. Tinggikannya sikit bang!”

Bahasa “saya” yang sepatut digunakan:

“Yah sukalah kalau gambar tu dinaikkan sikit, baru nampak serinya, ya tak bang?”

Jadi, jika suami-suami yang saya hormati ini telah memahami pendekatan bahasa “saya” ini, maka sampaikanlah kepada isteri saudara dan saudara juga hendaklah mengamalkannya. Yakinlah, kita akan dapat menikmati kerehatan yang sebenarnya bukan hanya dihujung minggu malah setiap masa jika kita mengamalkan bahasa “saya” ini.

Selamat mencuba.

Sumber